Kamis, 15 Oktober 2015

Inflation


Pemikiran tentang inflasi yang paling banyak dipahami oleh kita semua bahwa inflasi adalah suatu fenomena moneter. Akan tetapi inflasi ternyata juga merupakan fenomena fiskal meskipun fenomena moneter masih lebih dominan (Hervino, 2011).
Studi empiris terkait tingkat inflasi (nominal wage inflation) dan penggangguran pertama kali dilakukan oleh A.W. Phillips (1958), dan kemudian diadopsi oleh Samuelson dan Sollow (1960) di Amerika dengan hasil yang cukup relevan (kurva phillips tradisional). Hubungan antara kedua variabel ini ternyata mampu pula menjelaskan kaitan antara price inflation dan cyclical indicator of output. Kemudian hal ini dikaji lebih mendalam oleh Phelps (1967), Friedman (1968) dan Lucas (1972) terkait hubungan trade-off diantara kedua variabel tersebut
. Dalam analisisnya, Friedman-Phelps menjelaskan bahwa sesungguhanya trade-off yang terjadi tidaklah permanen, hal ini dikarenakan lambannya ekspektasi para agen ekonomi untuk melihat realitas yang ada, dan para pengambil kebijakan cenderung untuk mempertahankan tingkat pengangguran dibawah tingkat alamiahnya sehingga hal tersebut akan meningkatkan tingkat inflasi, pendekatan ini dikenal dengan accelerationist hypothesis.
Kemudian dalam perkembangannya, analisis kurva phillips dalam jangka pendek mulai bergeser dan memunculkan model triangel. Model ini menjelaskan bahwa inflasi (dinamis) ini diturunkan dari tiga sumber, yaitu aktivitas ril (pengangguran), supply shocks, dan inertia (tingkat inflasi sebelumnya). Model ini menjadi sangat penting bagi kebijakan makroekonomi dan melahirkan konsep Non-Accelerating Inflation Rate of Unemployment atau lebih kenal dengan NAIRU.
Berikutnya Lucas dan Sargent (1972) memperkenalkan ekspektasi rasional yang dimasukan ke dalam pemodelan ekonomi, dan ini menjadi alternatif pemodelan dalam kerangka kerja kurva Phillips yang dikenal dengan nama model islands. Model ini menjelaskan bahwa dalam jangka pendek, trade-off inflasi dan output merupakan hasil dari adanya informasi yang asimetris (imperfect information) karena adanya price-setters. Model ini ternyata sejalan dengan pandangan kaum Keynesian baru (New Keynesian) dimana ini menjadi bagian dalam New Keynesian Macroeconomics. Dari sinilah muncul model kurva Phillips yang baru yang dikenal dengan New Keynesian Phillips Curve (NKPC).
Terdapat beberapa hal yang membedakan pandangan antara kurva phillips tradisonal dengan yang baru, yaitu (1) dalam kerangka kerja kurva phillips baru, perilaku penetapan harga adalah hasil dari suatu proses optimalisasi dari suatu perusahaan yang berada dalam pasar monopolistik ketika dihadapkan pada kendala dalam menyesuaikan tingkat harga; (2) pada pendekatan tradisional, diasumsikan bahwa para agen ekonomi adaptive expectations (backward-looking), sedangkan pada pendekatan baru (NKPC) adalah rational expectations (penomena foward-looking); dan (3) sebagai suatu hasil dari proses optimalisasi penentuan harga oleh perusahaan, maka indikator aktivitas ekonomi yang relevan dalam pendekatan NKPC diproksi dengan real marginal costs.
Sejak saat itulah banyak sekali penelitian-penelitian empiris yang terkait dengan inflasi dinamis (inflation dynamic) merujuk pada NKPC. NKPC ini pengembangan dari teori tradisional kurva phillips (Phillips curve) yang mana terdapat trade-off antara tingkat inflasi dan pengangguran dalam jangka pendek dan akan inelastis sempurna (vertikal) dalam jangka panjang (Mankiw, 2008). NKPC ini diturunkan dari kerangka kerja optimisasi yang terkait dengan rational expectations dan nominal rigidities (Ruud and Whelan, 2005), sehingga NKPC menjelaskan bahwa inflasi itu memiliki dinamika forward-looking (Jondeau dan Bihan, 2005).
Validitas NKPC ini masih menjadi perdebatan, sehingga sampai dengan saat ini banyak studi empiris yang mencoba untuk mengkaji validitas NKPC ini di beberapa negara. Akhirnya muncullah model baru dari kurva Phillips yang dikenal dengan model hibrida dari NKPC
. Model ini selain memasukkan forward-looking (ciri khas NKPC) juga memasukkan lags of inflation yang tentunya tidak terdapat dalam model inflasi inti (core inflation). Model ini mencoba mengkombinasikan variabel forward-looking dengan beberapa lag variabel inflasi (backward-looking), dan juga bersama dengan variabel inflationary pressures (output gap). Model ini akhirnya dapat diterima secara umum dan semakin banyak diaplikasikan dalam analisis kebijakan moneter.
Studi empiris dengan menggunakan model hibrida ini terbagi menjadi dua sisi. Pertama, penelitian yang menjelaskan bahwa variabel forward-looking dalam inflasi tidaklah penting, ini dilakukan oleh Fuhrer (1997), Robert (2001), Estrella dan Fuhrer (2002), dan Soderlind dkk. (2002). Umumnya penelitian mereka menghasilkan bahwa variabel backward-looking lebih memiliki pengaruh dibandingkan dengan forward-looking. Kedua, penelitian yang dilakukan oleh Gali dan Gertler (1999) di Amerika, Gali dkk. (2001) di Eropa, Sbordone (2002), dan Amato dan Gerlach (2000) menjelaskan bahwa varibel forward-looking memiliki pengaruh yang dominan dan mampu menjelaskan inflasi dinamis di Eropa dan Amerika. Hasil ini juga sejalan dengan apa yang dilakukan oleh Insukindro dan Sahadewo (2010) di Indonesia.

Daftar Rujukan

Amato, J.D., Gerlach, S., 2000. Comparative Estimates of New Keynesian Phillips Curves, Working Paper, Bank of International Settlements.
Estrella, A., Fuhrer, J.C., 2002. Monetary policy shifts and the stability of monetary policy models. Review of Economics and Statistics 85 (1), 94– 104.
Friedman, Milton, 1968. “The Role of Monetary Policy,” American Economic Review, 58, 1-17.
Fuhrer, Jeffrey, 1997. “The (Un)Importance of Forward-Looking Behavior in Price Specifications,” Journal of Money, Credit, and Banking, 29, 338-350.
Gali, J., Gertler, M., Lo´ pez-Salido, J.D., 2001. European inflation dynamics. European Economic Review 45 (7), 1237–1270.
Gali, Jordi and Mark Gertler, 1999. “Inflation Dynamics: A Structural Econometric Analysis,” Journal of Monetary Economics, 44, 195-222.
Hervino, D., 2011. Volatilitas Inflasi di Indonesia: Fiskal atau Moneter?. Jurnal Keuangan dan Perbankan Vol. 13 No. 2, pp. 139 – 148.
Insukindro dan Sahadewo, G. A., 2010. Inflation Dynamics in Indonesia: Equilibrium Correction and Forward-Looking Phillips Curve Approaches. Gadjah mada International Journal of Business, Vol. 12 No. 1, pp. 117 – 133.
Jondeau, E., and Bihan, H. L., 2004. Testing for the New Keynesian Phillips Curve, Additional international evidence. Elsevier, Economic Modelling 22 (2005) 521 – 550.
Lucas, Robert, 1972. “Expectations and the Neutrality of Money,” Journal of Economic Theory, 4, 103-124.
Pesaran, M. H. dan Y. Shin, 1999, “An Autoregressive Distributed Lag Modeling Approach to Cointegration Analysis,” in S. Strom (Ed.). Econometrics and Economic Theory in the 20th Century: The Ragnar Frisch Centennial Symposium.
Pesaran, M. H., Y. Shin and R. J. Smith, 2001, “Bounds Testing Approaches to the Analysis of Level Relationships,” Journal of Applied Econometrics, 16, pp. 289-326.
Phelps, Edmund, 1967. “Phillips Curves, Expectations of Inflation, and Optimal Inflation Over Time,” Economica, 135, 254-281.
Phillips, A.W., 1958. “The Relation between Unemployment and the Rate of Change of Money Wage Rates in the United Kingdom, 1861-1957,” Economica, 25, 283-99.
Ramos, F. M and Torres, Alberta, 2008, “Inflation Dynamics in Mexico: A Characterization Using The New Phillips Curve,” North America Journal of Economics and Finance, 19, 274-289.
Roberts, J.M., 2001. How well does the new Keynesian sticky-price model fit the data? Federal Reserve Board, Finance and Economics Discussion Series, 2001– 2013.
Rudd, Jeremy and Karl Whelan, 2005. “New Tests of the New-Keynesian Phillips Curve,” Journal of Monetary Economics, 52, 1167-1181.
Samuelson, Paul and Robert Solow, 1960. “Analytical Aspects of Anti-Inflation Policy,” American Economic Review, 50, 177-94.
Sargent, Thomas, 1971. “A Note on the ‘Accelerationist’ Controversy,” Journal of Money, Credit, and Banking, 3, 721-725.
Sbordone, Argia, 2002. “Prices and Unit Labor Costs: A New Test of Price Stickiness,” Journal of Monetary Economics, 49(2), 265-292.
Soderlind, P., Soderstro¨m, U., Vredin. A., 2002. Can Calibrated New-Keynesian Models of Monetary Policy Fit the Data? Working Paper, Stockholm School of Economics.

Kompetisi dan Pengambilan Risiko dalam Industri Perbankan


Kompetisi dalam industri perbankan nasional sangatlah ketat, secara sederhana ini bisa dilihat dari semakin gencarnya bank menawarkan berbagai macam hadiah guna memperoleh sumber dana murah dari nasabah (berupa tabungan) yang akan digunakan dalam proses intermediasi—sebagai fungsi utama dari bank—guna memperoleh keuntungan. Faktor perubahan kondisi perekonomian baik pada sisi permintaan maupun penawaran membuat lembaga keuangan berusaha untuk selalu beradaptasi dengan cara melakukan berbagai inovasi yang nyatanya justru akan menurunkan tingkat profitabilitas ketika mereka hanya melakukan usaha perbankan tradisional (Mishkin, 2008:367).
Kondisi industri perbankan nasional secara umum dapat dibagi menjadi beberapa frame waktu, jika dikaitkan dengan adanya kejutan eksternal (external shock) berupa regulasi ataupun deregulasi yang diberlakukan oleh pemerintah dan Bank Indonesia (BI) yang memiliki imbas langsung bagi perkembangan industri perbankan nasional dan juga kompetisi diantara bank yang ada hingga saat ini.
Regulasi pertama yang menjadi awal liberalisasi sektor keuangan khususnya perbankan ketika pemerintah dan BI (belum independen) mengeluarkan paket kebijakan pada bulan Oktober 1988—yang lebih dikenal dengan pakto-88—yang secara umum mempermudah pendirian bank (penurunan modal minimum untuk mendirikan bank baru, dan mempermudah bank yang telah ada untuk membuka kantor cabang baru). Praktis pasca regulasi pakto-88 ini perkembangan industri perbankan begitu pesat, banyak bank baru bermunculan, hasilnya kompetisi memperebutkan dana murah menjadi semakin ketat lagi. Namun dampak dari regulasi tersebut membuat bank justru mengabaikan prinsip kehati-hatian (prudential regulation) didalam pengelolaan dan penyaluran dana masyarakat.
Pada sekitar tahun 1995 hingga 1997 keluarlah deregulasi yang terkait dengan penerapan prinsip prudensial yang wajib dilaksanakan oleh perbankan nasional. Regulasi lainnya yang turut mewarnai dinamika perkembangan industri perbankan nasional seperti; (1) likuidasi, rekapitalisasi dan merjer sebagai akibat krisis ekonomi yang terjadi di tahun 1997; (2) privatisasi perbankan tahun 2003; (3) Arsitektur Perbankan Indonesia tahun 2004, dan Single presence Policy dan Minimum Capital Requirement sekitar tahun 2004 hingga 2010 [Chua B. H. (2003) dan Bank Indonesia (2010) dalam Mulyaningsih dan Daly (2011)].
Regulasi yang ketat dan kondisi perekonomian yang dinamis memaksa perbankan untuk terus beradaptasi guna berkompetisi dalam berinvonasi guna mempertahankan tingkat profitabilitasnya, yang tidak jarang, perbankan justru mengambil risiko dalam setiap keputusan lending-nya.
Penelitian yang terkait antara kompetisi dan pengambilan risiko dalam industri perbankan telah banyak dilakukan diberbagai negara dengan hasil yang beragam pula. Hasil positif antara tingkat kompetisi dan pengambilan risiko dalam menyalurkan dana dalam industri perbankan diperoleh Hellman et. al. (2000) dan Repullo (2004) dalam Stanek (2012), Keeley (1990), dan Demzetz, Saidenberg, dan Strahan (1996).
Di sisi lain, hasil penelitian yang menjelaskan adanya hubungan negatif juga diperoleh Boyd dan De Nicolo (2005) dalam Stanek (2012). Untuk hasil yang beragam diperoleh dalam penelitian Boyd dan De Nicolo (2009) dimana ketika tingkat kompetisi dalam industri perbankan meningkat, maka probabilitas terjadinya bank failure dapat meningkat dan menurun. Penelitian di Indonesia juga dilakukan oleh Mulyaningsih dan Dale (2011), hasil penelitian ini secara umum kompetisi yang terjadi dalam industri perbankan nasional adalah monopolistik. Widyastuti dan Armanto (2013) menghasilkan bahwa kompetisi industri perbankan Indonesia memiliki kecenderungan monopoli dan atau oligopoli yang kolusif, dan dampak dari diperkenalkannya Arsitektur Perbankan Indonesia (API) menurunkan tingkat kompetisi.

Daftar Rujukan

Allen, F. and D. Gale. 2004. Competition and Financial Stability. Journal of Money, Credit and Banking, 36, 453-480.
Bank Indonesia. 2010. Arsitektur Perbankan Indonesia. dikutip dari website: www.bi.go.id.
Boyd, J. H., and G. De Nicolò. 2005. The Theory of Bank Risk Taking and Competition Revisited. Journal of Finance, 60, 1329-1343.
Boyd, J. H., and G. De Nicolò. 2009. Bank Competition, Risk and Asset Allocations. IMF Working paper, 09/143, 2009.
Chua, H.B.. 2003. FDI in financial sector: the experience of ASEAN countries over the last decade, in CGFS (2004), the Central Bank paper submitted by Working Group members. Retrieved from website: www.bis.org/publ/cgfs22mas.pdf
Claessen, S., and Laeven, L.. 2004. What Drive Bank Competition? Some International Evidence. Journal of Money, Credit and Banking, vol. 36, pp. 563 – 583.
Demsetz, R.S., M. R. Saidenberg and P. E. Strahan. 1996. Banks with something to lose: The disciplinary role of franchise value. FRBNY Economic Policy Review, 1-14.
Hellmann, T. F., K. C. Murdock, and J. E. Stiglitz. 2000. Liberalization, Moral Hazard in Banking, and Prudential Regulation: Are Capital Requirements Enough? American Economic Review, 90, 147-165.
Keeley, M.C.. 1990. Deposit insurance, risk and market power in banking. American EconomicReview, 80, 1183-1200
Lutkepohl, H. and Kratzig, M.. 2004. Applied Time Series Econometrics. Cambridge University Press, New York.
Mishkin, F. S. 2008. The Economics of Money, Banking, and Financial Markets 8th edition. Pearson Addison Wesley, Boston, America.
Repullo, R.. 2004 .Capital Requirements, Market Power, and Risk-Taking in Banking. Journal of Financial Intermediation, 13, 156-182.
Stanek, Rostislav. 2012. Competition dan Risk-taking in Banking Industry. Journal of Financial Assets and Investing, 1, 7-19.
Trimulyaningsih dan Daly, Anne., 2011. Competitive Conditions in banking Industry: An Empirical Analysis of The Consolidation, Competition, and Concentration in Indonesia Banking Industry Between 2011 and 2009. Buletin Ekonomi Moneter dan Perbankan, Bank Indonesia, Oktober 2011, 151-185.
Widyastuti, Ratna Sri dan Armanto, Boedi, 2013. Kompetisi Industri Perbankan Indonesia. Buletin Ekonomi Moneter dan Perbankan, Bank Indonesia, April 2013, 417-439.