Kemarin (kompas 5/5/2009) BI menurunkan suku bunga acuan (BI rate) sebesar 25 basis poin (bps) menjadi 7.25 persen. Namun, kondisi ini tidak direspon positif oleh bank umum untuk menurunkan suku bunga pinjaman/kredit. Menurut beberapa penelitian, diperlukan proses penyesuaian selama 3 hingga 4 bulan bagi bank umum untuk merespon penurunan BI rate tersebut. Seolah-olah respon bank umum jika terjadi penurunan Bi rate adalah inelastis, lain halnya jika BI rate mengalami peningkatan, yang langsung direspon positif oleh bank umum (proses penyesuaiannya lebih singkat).
Apa sebenarnya yang terjadi dari fenomena ini? Bank saat ini tidak hanya sebagai lembaga transmisi dan lembaga intermediasi, tetapi juga menjalankan peran layak perusahaan lainnya yang bertujuan untuk memperoleh laba. Kenapa bank cenderung lama merespon penurunan Bi rate dan cepat merespon naiknya BI rate? Jawabanya sederhana, yaitu salah satu penerimaan (laba) bank adalah dari selisih suku bunga tabungan dan suku bunga kredit (Net Interest Margin-NIM), sumber dana murah perbankan adalah berasal dari tabungan masyarakat, sedangkan sumber penerimaan terbesar bank adalah dari suku bunga kredit.
Ketika BI rate turun dan bank merespon cepat dengan menurunkan suku bunga kredit, maka bank akan kehilangan pendapatan potensial dari NIM karena spread-nya mengecil, sehingga prilaku bank dengan menunda penurunan suku bunga-nya sesungguhnya didasarkan atas ketidakmauan bank untuk kehilangkan pendapatan potensialnya. Pada saat kondisi ini terjadi, sesungguhnya fungsi perbankan sebagai lembaga transmisi adalah gagal, karena maksud dari BI menurunkan BI rate adalah untuk menstimulasi kegiatan perekonomian agar dapat dapat menyerap tenaga kerja dan mendorong pertumbuhan ekonomi.
Kompas hari ini (6/5/2009) memberitakan bahwa ketua The Fed, Ben Bernanke memperediksikan bahwa resesi yang terjadi di Amerka Serikat akan berakhir di tahun ini karena perekonomian AS akan tumbuh tahun ini, meskipun masih akan terjadi pengangguran. Prediksi yang optimis ini sangat cepat di respon oleh BI dengan menurunkan BI rate, akan tetapi hal ini tidak sejalan dengan bank umum, sehingga mekanisme transmisi tidak dapat bekerja dengan baik.
Kondisi yang paling parah akan terjadi adalah kita terlambat untuk memanfaatkan momentum ini untuk menggenjot produksi sektor ril yang berorientasi ekspor ke AS. Seperti yang telah kita ketahui semua, resesi yang terjadi di AS membuat sektor ekspor kita ke negara mereka begitu terpukul. Ketika kondisi perekonomian Amerika diprediksi membaik maka ada harapan untuk memulihkan sektor ekpsor sehingga dapat memperkuat cadangan devisa.
Secara sederhana : suku bunga kredit turun --> sektor ril bekerja --> sektor input juga bekerja --> pengangguran berkurang --> eskpor naik --> pendapatan nasional naik --> pertumbuhan ekonomi naik --> cadangan devisa naik
Momentum perbaikan ekonomi kita saat ini telah terlihat, dari menguatnya nilai tukar rupiah terhadap dolar dan naiknya IHSG sebagai barometer kondisi sektor ril di Indonesia.
Namun yang patut diperhatikan adalah keengganan bank untuk menyalurkan kredit ketika suku bunga acuan sudah pada kondisi terendah, artinya bank akan cenderung untuk meningkatkan penempatan aset produktifnya dalam pos selain kredit (penempatan dalam BI, surat berharga, dan antar bank aktiva) yang memiliki tingkat risiko gagal bayar yang lebih rendah, dibandingkan dengan pos kredit karena penyalurkan kredit dengan tingkat bunga yang rendah membuat pendapatan laba usaha bank semakin mengecil sedangkan risiko gagal bayar adalah tetap (lemons problem). Kondisi ini dikenal dengan prilaku penghindaran risiko (risk aversion) kredit oleh bank.
Jika ini yang terus terjadi maka fungsi lembaga transmisi dan intermediasi perbankan akan mati dan kita akan kehilangan momentum perbaikan kondisi perekonomian nasional.
Apa sebenarnya yang terjadi dari fenomena ini? Bank saat ini tidak hanya sebagai lembaga transmisi dan lembaga intermediasi, tetapi juga menjalankan peran layak perusahaan lainnya yang bertujuan untuk memperoleh laba. Kenapa bank cenderung lama merespon penurunan Bi rate dan cepat merespon naiknya BI rate? Jawabanya sederhana, yaitu salah satu penerimaan (laba) bank adalah dari selisih suku bunga tabungan dan suku bunga kredit (Net Interest Margin-NIM), sumber dana murah perbankan adalah berasal dari tabungan masyarakat, sedangkan sumber penerimaan terbesar bank adalah dari suku bunga kredit.
Ketika BI rate turun dan bank merespon cepat dengan menurunkan suku bunga kredit, maka bank akan kehilangan pendapatan potensial dari NIM karena spread-nya mengecil, sehingga prilaku bank dengan menunda penurunan suku bunga-nya sesungguhnya didasarkan atas ketidakmauan bank untuk kehilangkan pendapatan potensialnya. Pada saat kondisi ini terjadi, sesungguhnya fungsi perbankan sebagai lembaga transmisi adalah gagal, karena maksud dari BI menurunkan BI rate adalah untuk menstimulasi kegiatan perekonomian agar dapat dapat menyerap tenaga kerja dan mendorong pertumbuhan ekonomi.
Kompas hari ini (6/5/2009) memberitakan bahwa ketua The Fed, Ben Bernanke memperediksikan bahwa resesi yang terjadi di Amerka Serikat akan berakhir di tahun ini karena perekonomian AS akan tumbuh tahun ini, meskipun masih akan terjadi pengangguran. Prediksi yang optimis ini sangat cepat di respon oleh BI dengan menurunkan BI rate, akan tetapi hal ini tidak sejalan dengan bank umum, sehingga mekanisme transmisi tidak dapat bekerja dengan baik.
Kondisi yang paling parah akan terjadi adalah kita terlambat untuk memanfaatkan momentum ini untuk menggenjot produksi sektor ril yang berorientasi ekspor ke AS. Seperti yang telah kita ketahui semua, resesi yang terjadi di AS membuat sektor ekspor kita ke negara mereka begitu terpukul. Ketika kondisi perekonomian Amerika diprediksi membaik maka ada harapan untuk memulihkan sektor ekpsor sehingga dapat memperkuat cadangan devisa.
Secara sederhana : suku bunga kredit turun --> sektor ril bekerja --> sektor input juga bekerja --> pengangguran berkurang --> eskpor naik --> pendapatan nasional naik --> pertumbuhan ekonomi naik --> cadangan devisa naik
Momentum perbaikan ekonomi kita saat ini telah terlihat, dari menguatnya nilai tukar rupiah terhadap dolar dan naiknya IHSG sebagai barometer kondisi sektor ril di Indonesia.
Namun yang patut diperhatikan adalah keengganan bank untuk menyalurkan kredit ketika suku bunga acuan sudah pada kondisi terendah, artinya bank akan cenderung untuk meningkatkan penempatan aset produktifnya dalam pos selain kredit (penempatan dalam BI, surat berharga, dan antar bank aktiva) yang memiliki tingkat risiko gagal bayar yang lebih rendah, dibandingkan dengan pos kredit karena penyalurkan kredit dengan tingkat bunga yang rendah membuat pendapatan laba usaha bank semakin mengecil sedangkan risiko gagal bayar adalah tetap (lemons problem). Kondisi ini dikenal dengan prilaku penghindaran risiko (risk aversion) kredit oleh bank.
Jika ini yang terus terjadi maka fungsi lembaga transmisi dan intermediasi perbankan akan mati dan kita akan kehilangan momentum perbaikan kondisi perekonomian nasional.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar