Asian Miracle
Sejarah pertumbuhan dunia diwarnai dengan beberapa kejadian menarik seperti keajaiban dan bencana bagi pertumbuhan negara-negara di dunia. Keajaiban pertumbuhan ekonomi yang pernah terjadi ialah di Asia Timur yang disebut dengan The East Asia Miracle. Negara-negar Asia Timur ini terdiri dari Hongkong, Indonesia, Jepang, Malaysia, Republik Korea (Korea Selatan), Taiwan (China), dan Thailand, yang disebut sebagai high-performing East Asian economies (HPAEs). Sekitar tahun 1960 hingga 1990-an HPAEs merupakan negara dengan tingkat pertumbuhan ekonomi yang tinggi, berkelanjutan, dan dibarengi dengan adanya pemerataan (penurunan ketidakmerataan) distribusi pendapatan. Negara-negara ini sangat menikmati buah dari pertumbuhan ekonominya dimana tingkat pertumbuhan pendapatan per kapita yang tinggi dan pada waktu yang sama terdapat perbaikan dalam distribusi pendapatannya. Berbeda dengan apa yang terjadi di Korea Selatan dan Taiwan, dimana pertumbuhan ekonomi yang terjadi diawali dengan pemerataan distribusi pendapatan yang tinggi. Lebih jauh lagi, negara-negara seperti Jepang, Hong Kong, dan Singapura merupakan negara dengan tingkat pertumbuhan dan pemerataan yang hampir sama. Hasil dari pemerataan yang cepat ini ditandai dengan semakin baiknya tingkat kesejahteraan penduduknya, seperti naiknya tingkat harapan hidup dari 56 tahun pada tahun 1960 menjadi 71 tahun pada tahun 1990, proporsi orang yang hidup dalam tingkat kemiskinan absolut (kurang akses atas air bersih, makanan, dan tempat tinggal) menurun dari 58 persen di tahun 1960 menjadi 17 persen di tahun 1990 di Indonesia dan pada periode yang sama penurunan tingkat kemiskinan absolut juga terjadi di Malaysia dimana dari 37 persen menjadi kurang dari 5 persen. Penurunan tingkat kemiskinan absolut ini juga terjadi di negara lain tetapi tidak seajaib di Asia Timur.
Apa yang menyebabkan negara-negara Asia Timur sukses? Kesuksesan di negara-negara Asia Timur ini didukung oleh (1) investasi dalam negeri yang tinggi (karena tingginya tingkat tabungan dalam negeri) dan (2) pertumbuhan human capital (perbaikan produktivitas dalam bidang agrikultrul) yang sangat cepat dan berfungsi sebagai bahan bakar pertumbuhan. Dengan meningkatnya pertumbuhan human capital maka meningkat pula angkatan kerja yang berpendidikan dan semakin efektifnya sistem administrasi publik. Selain itu menurunnya tingkat pertumbuhan penduduk juga merupakan salah satu aspek yang mendukung kesuksesan pertumbuhan di Asia Timur. Menurut A. Young, pertumbuhan pendapatan per kapita terjadi karena adanya pertumbuhan pada faktor input (capital stock atau investasi dan angkatan kerja atau human capital) walaupun pertumbuhan total faktor produktif rata-rata sebesar 0.6 persen dan tidak jauh berbeda dengan yang terjadi di Amerika.
Tentunya keberhasilan ini tidak lepas dari peran pemerintah dalam menerapkan atau menjalankan kebijakan pembangunan yang fundamental untuk mencapai pertumbuhan ini. (1) Kebijakan untuk mendorong kinerja sistem perbankan agar dapat dengan mudah diakses oleh non-tradisional saver tentunya akan meningkatkan tabungan masyarakat. Selain itu diperlukan juga campur tangan pemerintah dalam membangun pasar keuangan yang kuat, dan juga menarik investasi dalam dan luar negeri dengan menjaga agar tingkat bunga deposito rendah, juga menjaga loan deposit ratio (LDR) pada ambang atas untuk meningkatkan keuntungan. (2) Kebijakan dalam pendidikan yang terfokus pada pendidikan dasar dan menengah tentunya akan meningkatkan keterampilan pada para angkatan kerja (seperti yang terjadi di Singapura, dimana tingkat partisipasi angkatan kerja wanita meningkat dari 27 persen menjadi 51 persen pada periode tahun 1960 hingga 1990). (3) Dan kebijakan dalam bidang agrikultrul yang menekankan pada aspek produktivitas dan tidak mengenakan pajak pada penduduk pedalaman (kelas ekonomi bawah) tentunya sangat mendukung terciptanya penurunan ketidakmerataan ekonomi. (4) Sedangkan dalam kebijakan bidang industri, pemerintah memberikan subsidi pada beberapa industri terpilih, melindungi industri substitusi impor dan mendorong terciptanya industri yang berorientasi ekspor.
Berdasarkan uraian diatas maka terdapat dua pilihan kebijakan yaitu kebijakan yang fundamental dan kebijakan campur tangan yang selektif. Kebijakan fundamental yang penting ialah stabilitas makroekonomi, investasi tinggi dalam human capital (pendidikan dasar), sistem kuangan yang stabil dan aman, stabilitas harga, investasi publik pada infrastruktur, perbaikan kerangka kerja institusi-institusi (seperti di Jepang dalam hal memfungsikan bank pembangunan) dan terbukanya akan teknologi luar negeri. Sedangkan campur tangan yang selektif termasuk financial repression, kerdit langsung, mempromosikan industri pilihan, dan mendorong kebijakan yang berorientasi ekspor.
Asian Crisis
Financial Crisis di Asia benar-benar luar biasa, keajaiban Asia tiba-tiba menjadi krisis Asia. Kenapa perekonomian di Asia rentan dan kenapa keseimbangan yang terjadi begitu buruk? Kerentanan perekonomian Asia terhadap krisis merupakan konsekuensi dari keajaiban Asia, dimana ini terjadi karena pembangunan dan pengelolan institusi yang kurang baik selama periode keajaiban tersebut. Selain itu terdapat dua permasalahan pokok penyebab kerentanan ialah liberalisasi sektor finansial dan menganut sistem nilai tukar tetap.
Kerentanan atau kerawanan yang ada di Asia terjadi karena liberalisasi di sektor perdagangan dan keuangan khususnya tidak adanya reformasi sistem keuangan pemerintah. Liberalisasi sendiri miliki dua efek atas sistem keuangan. Pertama, liberalisasi justru meningkatkan penyesuaian resiko pengembalian atas modal dan muaranya pada investment boom. Kedua, liberalisasi dapat diartikan sebagai peningkatan resiko, pengembalian yang menurun, dan investasi bisa saja dibiayai dari luar negeri.
Krisis terjadi ketika pemerintah tidak menepati untuk melunasi hutang sektor keuangan sehingga membuat pemerintah tidak kredibel di mata investor asing, sehingga hal ini akan menurunkan capital stock pada level yang lebih rendah, dan konsekuensinya menekan investasi (crowding out).
Selain itu hal lain yang memacu terjadinya krisis di Asia ialah defisit neraca pembayaran (current account) dibeberapa negara Asia, dimana deficit tersebut semakin meningkat (kecuali Singapura), walaupun kadarnya permasalahannya berbeda-beda. Thailand merupakan salah satu negara yang memiliki defisit terbesar yaitu minus 8 persen kemudian Malaysia sebesar minus 6 persen (Malaysia telah berhasil membalikkan trend negatif ini). Dari segi competitiveness (yang diukur dengan nilai tukar riil), ada beberapa negara yang daya saingnya turun lebih dari 10 persen (1990) yaitu Indonesia, Philipina, dan Hong kong. Untuk Singapura, Malaysia, dan Thailand turun mendekati 10 persen. Sedangkan Korea Selatan dan Taiwan tidak mengalami penurunan daya saing.
| Krisis Moneter 1997-1999 Krisis Asia Krisis moneter di Asia bermula di Thailand pada tahun 1997 yang dipicu karena tidak berjalan dengan baik dari peran pasar uang sehingga merusak lembaga dan fundamental ekonomi. Kesalahan lainnya ialah Negara-negara di Asia menggunakan sistem nilai tukar tetap terhadap Dolar Amerika, sehingga membuat para banker dan pengusaha untuk melakukan ekspansi bisnis (sector property) dengan meminjam Dolar lalu mengkonversi ke mata uang local masing-masing tanpa di hedging. Lalu struktur ini mengalami tekanan, sebagian karena boom kredit dan sebagian lagi karena melambatnya ekonomi di Jepang dan apresiasi Dolar terhadap Yen. Dan keseimbangan perdagangan menjadi terancam, meskipun deficit neraca pembayaran diimbangi oleh arus-arus masuk yang modal yang terus berlangsung dalam jumlah besar. Ketidakcocokan inilah dimanfaatkan oleh Soros Fund Management untuk menjual Bath Thailand dan Ringgit Malaysia. Dari sinilah efek krisis ini bermula, dimana pada bulan Januari 1997, Thailand mulai menganut system nilai tukar yang mengambang bebas dan fluktuasi nilai tukar menjadi tidak terkendali hingga menyebabkan cadangan devisa berkurang. Dari sinilah krisis itu menjalar ke Malaysia, Indonesia, Filipina, Korea Selatan, dan negara-negara lain seperti Negara Amerika Latin, Rusia, dan Eropa Timur. Penyebab efek krisis ini meluas dinegara Asia karena mereka menganut system kapitalisme kroni (kapitalisme model Asia), selain itu terdapat kelemahan structural negara-negara Asia dimana bisnis dimiliki oleh keluarga dan inilah yang mneyebabkan tingginya meningkatnya rasio hutang atas modal (model bisnis ini lebih suka melakukan kredit pada perbankan karena ekspansi tidak dapat didanai dari pertumbuhan pendapatannya) dan pemberian kredit ini juga sarat dengan praktek-praktek yang tidak bersih. Seperti di Korea, dimana ekonominya didominasi oleh konglomerat keluarga. Ketika terjadi kredit macet, maka bank-bank di Korea melakukan pinjaman dari luar negeri dan menginvestasikan pada asset-aset yang cepat menghasilkan namun beresiko tinggi dinegara-negara lain seperti Indonesia, Rusia, Brazil, dan Ukraina, inilah yang memberatkan krisis di Korea. |
Tidak ada komentar:
Posting Komentar