Kamis, 20 November 2008

Pengembangan Sumber Daya Manusia dan Pembangunan Ekonomi

Pendahuluan

Istilah pembangunan ekonomi mulai menjadi fokus perhatian dan perdebatan para ekonom dan pemerhati perekonomian sejak jaman Merkantilis, termasuk Adam Smith yang juga menyinggung mengenai pembangunan ekonomi dalam bukunya yang menjadi tonggak pemikiran para ekonom klasik yaitu The Wealth of Nations (1776).

Pembangunan ekonomi adalah suatu proses yang ditandai dengan meningkatnya pendapatan rill setiap penduduk dalam jangka panjang yang dibarengi dengan perbaikan system kelembagaan (institusi dan regulasi). Dan inti permasalah dari topik tentang pembangunan ekonomi yang penting untuk dianalisi adalah seputar masalah kemiskinan, ketidakmerataan, pertumbuhan ekonomi, distribusi pendapatan, pembentukan modal, tabungan, dan bantuan luar negeri.

Pengertian tentang pembangunan ekonomi berbeda dengan pertumbuhan ekonomi, walaupun ada beberapa orang yang mengganggap kedua hal tersebut sama. Yang membedakan ialah pertumbuhan ekonomi diartikan sebagai kenaikkan pendapatan domestik atau nasional bruto terlepas apakah perubahan struktur ekonomi tersebut terjadi atau tidak.

Sehingga bisa dikatakan bahwa pembangunan ekonomi pasti disertai dengan pertumbuhan ekonomi dan tidak sebaliknya. Dan suatu perekonomian dalam keadaan berkembang ketika pendapatan per orang cenderung meningkat dalam jangka panjang walaupun terdapat gejolak perekonomian yang mencoba menahannya.

Teori klasik yang dipelopori oleh Adam Smith mengungkapkan bahwa tersedianya sumber daya alam, penduduk, dan barang modal merupakan generator utama. Namun dari ketiga generator pembangunan ekonomi tersebut yang paling penting ialah tersedianya sumber daya alam sedangkan sumber daya manusia atau penduduk mempunyai peranan yang pasif. Adam Smith menjelaskan bahwa ketersediaan sumber daya alam sebagai batas maksimum suatu negara untuk memacu pembangunan ekonominya sedangkan faktor perkembangan teknologi diabaikan, padahal perkembangan teknologi sangat pesat sekali hingga menghasilkan tingkat produksi yang efesien dan inilah yang menjadi kelemahan dari pemikiran kaum klasik.

Dalam model pembangunan Schumpeter menegaskan bahwa yang menjadi pilar dalam pembangunan ekonomi ialah para enterprenur atau innovator. Dan tentunya para innovator inilah yang menghasilkan inovasi produk-produk dan juga teknologi yang digunakan untuk memperoduksinya. Sehingga bisa dikatakan bahwa proses inovasi memerlukan sumber daya manusia yang handal yang hanya bisa dihasilkan melalui proses pendidikan dan kesehatan.

Pembahasan

Pembangunan Manusia

Modal manusia bukanlah modal fisik. Pendekatan pembangunan versi Adam Smith's Wealth of Nations (Smith, 1776) fokus pada pembangunan kemampuan dan keahlian manusia, dan penekanan pada perubahan dan skala ekonomi yang mendukung pembentukan keterampilan (analysis of expansion of the wealth of nations). Walaupun model ini sudah terabaikan dalam teori pertumbuhan Harrod-Domar dan juga sejalan awal analisis neoklasik atas proses pertumbuhan.

Manusia tidak hanya sebagai sarana prestasi sosial tetapi juga lebih dalam lagi. Adam Smith pernah menyuarakan keluhan tentang kecenderungan menghakimi seseorang dari kontribusinya. Sesungguhnya fokus dari pemikiran Adam Smith adalah pembangunan manusia dapat atau tidak melakukan pendekatan ke pembangunan manusia) fokus pada kapabilitasnya sebagai basis informasi atas social judgement.

Bagaimana mengenali peran dari human capital untuk mengerti pentingnya pembangunan manusia?

Perspektif human capital dapat dengan mudah dikenali jika pengembangan fasilitas pendidikan dan sarana kesehatan mampu meningkatkan produktivitas dan pendapatan manusia atau tenaga kerja. Namun, jika pengembangan tersebut secara langsung mempengaruhi tingkat harapan hidup, mengurangi penyakit ringan, dan membuat lebih senang dan utuh sebagai manusia tanpa merubah produktivitas atau menambah output (ini yang seharusnya dihitung dalam human capital) maka pencapaian itu membuat human capital tidak dikenali.

Sedangkan konsep human resources development diinterpretasikan sebagai perbaikan manusia yang dilihat sebagai sumber akan pembangunan selanjutnya, seperti berpendidikan, lebih sehat, dll. yang langsung memperbaiki kualitas hidup dan memberikan kontribusi positif sebagai faktor produksi selanjutnya yang akan mengembangkan produktivitas dan pendapatan. Maka konsep tentang human resources development ambigu. Untuk memperbaiki sesuatu yang hilang dalam perspektif human capital dan human resources development, diperlukan perluasan konsep pembangunan yang lebih fokus pada peningkatan kualitas hidup dan kebebasan, terlepas apakah peningkatan tersebut menjembatani peningkatan output.

Perbaikan fasilitas kesehatan, pendidikan, atau jaminan sosial akan secara langsung masuk ke dalam pembangunan, jika membuat kita menjadi panjang umur, bebas, dll. dan perbaikan tersebut juga meningkatkan produktivitas kita (yang terlihat dalam GNP). Namun, keberhasilan ini sulit untuk di ukur dengan tingkat akurasi yang baik.

Ketika pembangunan manusia terlihat, dampak langsung dari aktivitas publik (kesehatan, pendidikan dll.) harus dimasukkan dalam perhitungan, dan juga untuk melihat kontribusi mereka dalam pembentukan dan kegunaan modal manusia, yang akan meningkatkan produktivitas dan output yang ditujukan untuk kemakmuran dan kebebasan manusia.

Penting untuk membedakan dua tipe pengaruh dari pembangunan sosial (pendidikan, kesehatan dll.) terhadap kapasitas manusia dan kualitas hidupnya:

-       Pengaruh langsung terhadap kapabilitas manusia, hal ini membuat manusia dapat melakukan sesuatu yang tidak bisa dilakukan tanpa pendidikan, kesehatan dll.

-       Pengaruh tidak langsung terhadap kapabilitas manusia, yang bekerja dengan meningkatnya produktivitas dan pendapatan (pandangan tradisional).

Perluasan perspektif ini sangat penting bagi kebijakan analisis semenjak human capital dipandang sebagai human development. Ini terlihat dalam World Development Report 1995 (World Bank), dimana terdapat penekanan yang cukup atas keterampilan dan kapabilitas pekerja dalam konteks produksi output.

Pemenuhan pendidikan dan kesehatan dasar merupakan fakor utama dalam mencapai tujuan kesetaraan dalam kesempatan ekonomi (kunci keberhasilan dibeberapa negara di Asia Tenggara). Kesetaraan ini meliputi antar kelas ekonomi, komunitas, dan gender. Sesungguhnya peluang memperoleh pendidikan dan kesehatan yang lebih baik dapat membuat kehidupan manusia khususnya wanita lebih makmur dan juga secara substansial dapat meningkatkan peluang mereka untuk mencari dan memperoleh pekerjaan. Lebih lanjut lagi, semakin tinggi kebebasan dalam bidang ekonomi akan mengurangi ketidakmerataan dalam kekuasaan dan otoritas dalam rumah tangga. Wanita menjadi sejahtera dan bebas karena memperoleh kesehatan dan pendidikan yang lebih baik.

Dampak dari kesehatan, pendidikan, dan prestasi sosial lainnya atas prilaku wanita yang melahirkan sangatlah besar, karena akses pendidikan dan pekerjaan yang lebih besar bagi wanita dapat mengurangi tingkat kelahiran, dan faktor yang sangat signifikan atas tingkat kelahiran adalah female literacy dan female labor-force participation (Mamta Murthi, Catherine Guio, dan Jean Dreze). Menurut Murthi, et.al., pembangunan sosial terutama bagi pendidikan dan pekerjaan wanita akan sangat efektif, dan pendapatan riil justru tidak memberikan impact.

Sehingga pembangunan manusia yang mempromosikan kesetaraan gender dapat merubah segi demografi ke arah the low-fertility-low mortality society. Jadi saluran langsung dan tidak langsung mendorong terciptanya komunitas yang low-fertility.

Financial Conservatism

Dasar analisis utama dibalik financial conservatism adalah dampak dari financial overspending dan konsekuensi penting dari stabilitas makro ekonomi. Permasalahan atas financial conservatism terletak pada pengenalan bahwa stabilitas harga sangat penting dan bisa sangat mengancam jika kebijakan fiskal yang diterapkan tidak pas dan tidak bertanggungjawab.

Apa dampak yang merusak dari inflasi? Michael Bruno menjelaskan bahwa tingkat inflasi yang tinggi memberi dampak signifikan terhadap pertumbuhan yang negatif, dan juga inflasi tinggi dan stabil memberi dampak positif terhadap pertumbuhan baik dalam jangka pendek, menengah, juga panjang (ini salah satu dasar dari financial conservatism). Namun dampak diatas tidak bertahan lama ketika Bruno juga menemukan bahwa efek terhadap pertumbuhan dari inflasi, sangat signifikan pada tingkat inflasi yang rendah (kurang dari 15 – 20 persen). Lalu dia berargumentasi bahwa untuk apa kuatir pada tingkat inflasi yang rendah ketika biaya untuk mengantisiasinya dapat dihadapi.

Permasalahan pokok terletak pada fakta bahwa inflasi adalah proses kuat yang menyatu, lebih jelas lagi bahwa derajat keteguhan cenderung meningkatkan tingkat inflasi. Bruno sangat jelas menggambarkan tentang bagaimana akselerasi inflasi terjadi dengan analogi berikut: “inflasi yang kronis cenderung menyerupai merokok: sekali kamu melebihi dari jumlah minimum maka akan sangat sulit sekali tuk berhenti dari ketergantungan yang buruk.” Faktanya, ketika terjadi goncangan (krisis pribadi-perokok dan krisis harga-perekonomian), maka terdapat kesempatan besar untuk melompat ke level yang lebih tinggi dan akan terus melakukan meskipun goncangan tersebut telah berkurang, dan proses ini dapat terulang dengan sendirinya (ini argumen konservatif yang paling sempurna dan sangat meyakinkan).

Pelajaran yang dapat diambil ialah tetap fokus pada biaya inflasi yang dapat ditoleransi melawan biaya untuk meredam atau menghilangkan inflasi seluruhnya. Isu kritis ialah bagaimana menghindari dinamika ketidakstabilan yang cenderung terlihat sebagai inflasi kronis yang stabil. Pelajaran dari kebijakan yang digambarkan oleh Bruno ialah: ”Kombinasi stabilitas tingkat inflasi rendah yang mahal dan inflasi kuat yang meleset jauh, menghasilkan pertumbuhan biaya yang terkait dengan menjaga inflasi tetap rendah meskipun pertumbuhan biaya yang besar tersebut identik dengan tingkat inflasi yang tinggi.”

Hal yang harus dihindari dari argumen di atas ialah tidak hanya pada tingkat inflasi yang tinggi tetapi juga pada tingkat inflasi yang moderat.

Argumen yang sama juga bisa dibuat prihal apa yang disebut sebagai anti defisit yang radikal yang terlalu membuat bingung dengan financial conservatism dalam perdebatan. Perbedaan akan kedua isu tersebut terlihat cukup jelas dalam perdebatan mengenai keseimbangan anggaran di Amerika. Dalam usaha untuk mengurangi defisit anggaran pemerintah Amerika yang semakin kuat, ini akan memberikan beban yang berat bagi hutang pemerintah dan tingkat yang paling pas untuk kenaikkan beban tersebut. Meskipun financial conservatism cenderung mengarah pada permintaan dimana mengurangan tersebut terjadi, ini tidak akan manjadi kebingungan pentingnya mengeliminasi defisit anggaran seluruhnya dalam beberapa periode tanpa peduli biaya sosial apa yang akan muncul. Untuk memulai kesemuanya dan cepat termasuk bantuan bagi yang membutuhkannya, yang berjalan baik di Amerika, hampir tidak bisa dilihat sebagai conservatism dari apapun (kasus yang jelas akan anti defisit-radicalism).

Di Eropa juga terjadi suatu radikal sebih dari 10 tahun. Kebijakan moneter dan fiskal yang radikal melalui penyamaran sebagai paham konservatif, terlihat pada permintaan akan paket kebijakan yang tegas yang memberikan prioritas untuk menghindari inflasi meskipun harus mentoleransi tingkat pengangguran yang luar biasa tinggi yang terlihat sebagai biaya umum untuk menjaga stabilitas harga (tingkat pengangguran alamiah untuk menjaga stabilitas harga).

Menurut Edmund Phelps (1994) dalam harian “Wall Street Journal” (on 5 may), tidak ada orang yang akan mengestimasi tingkat pengangguran alamiah pada level 2 digit dengan memamerkan berdasarkan tingkat pengangguran tahun lalu dan ini merupakan bukti yang cukup untuk menampilkan bahwa tingkat pengangguran melampaui tingkat alamiahnya.

Financial conservatism tidak hanya sekedar menstabilkan makro ekonomi termasuk harga, tetapi juga harus berhati-hati untuk tidak memilih strategi yang relatif lebih murah tetapi justru mengarah pada skenario penyelesaian yang lebih mahal (karena dinamika ketidakstabilan). Lalu yang harus dipisahkan dari financial conservatism ialah pencapaian anggaran berimbang atau zero inflation tanpa melihat biaya dan manfaat-nya.

Keterkaitan dan Prioritas

Dasar dari financial conservatism memberikan pengenalan yang cukup pada pemikiran tentang pembangunan manusia yang lebih luas. Secara tegas, hal-hal yang berhubungan dengan financial conservatism yaitu identifikasi biaya dan resiko jangka panjang ketidakstabilan ekonomi makro, tentu saja ini tidak membahayakan menaruh perhatian penuh dengan berbagai cara, yang mana pembangunan manusia menambah hidupnya. Anggaran yang terbatas dapat direfleksikan dengan mengkaji untung dan rugi (biaya and manfaat) dari penetapkan prioritas untuk pembangunan manusia (ini bisa dikatakan sebagai lagrangean multiplier dengan kendala anggaran). Lagrang multiplier disini tidak lain adalah nilai kelangkaan akan sumber, kelangkaan ini akan ditutup dengan menggunakan berbagai sumber dari masyarakat dan dampaknya tidak lebih merugikan lagi bagi pembangunan manusia, kemudian terjadi perubahan lain pada masyarakat. Cara lain lagi dalam mengembangkan layanan kesehatan, pendidikan, dan jaring pengaman sosial yang dapat mempengaruhi kehidupan bahwa masyarakat akan mencoba menyeimbangkan guna melawan kelangkaan akan sumber daya publik, baiya dan ketakutan inilah inti dari financial conservatism.

Masalah pokok dari financial conservatism bahwa pembangunan manusia ialah sesuatu yang mahal dan hanya negara kaya yang bisa mewujudkannya. Seperti di Jepang, pengembangan sumber daya manusia jadi prioritas, dan ini merupakan sejarah awal dari pembangunan ekonomi Jepang (Hiromitsu Ishi), dimulai sejak masa pemerintaan Meiji (1868 – 1911). Pembangunan manusia merupakan pertama dan yang paling utama sekutu dari kemiskinan, khususnya bagi mereka yang kaya dan berlimpah.

Apa yang dapat dilakukan dengan pembangunan manusia? Pembangunan manusia sebagai stimulator pertumbuhan ekonomi.

Joseph Stiglitz (Globalization Work – The Next Step to Global Justice, 2006) menjelaskan bahwa sebuah pendekatan komprehensif menuju pembangunan ialah pendidikan, namun pendidikan tanpa pekerjaan tidak akan mendorong pembangunan. Seperti di China, pada awalnya fokus pada menarik investor asing dan kemudian fokus tersebut bergeser pada pengembangan entrepreneur domestik. Menurut World Bank, elemen penting dari strategi pembangunan ialah penyediaan lebih banyak sumber daya dan perkuat peran pasar. Menurut Stiglitz, pasar, pemerintah, dan individu adalah tiga pilar bagi kesuksesan strategi pembangunan. Dan pilar keempat ialah komunitas (orang saling bekerjasama dengan bantuan pemerintah dan NGO), seperti di Bali dalam membuat irigrasi pertanian, Grameen micro-credit bank di pedalaman Bangladesh (pemberian pinjaman kecil bagi wanita miskin). Penguatan komunitas ini dapat dilakukan dengan kesehatan, pertolongan legal, dan program pendidikan.

Individu-individu yang mau bertarung dalam perekonomian global harus memiliki keterampilan dan sumber daya, seperti di India (Bangalore) yang memiliki teknologi dan manusia yang memiliki keterampilan untuk menggunakan teknologi tersebut.

Hubungan antara pembangunan manusia dengan kemiskinan akan memandu kita pada beberapa variabel lain yang juga terkait. Menurut Prof. Alain Mingat, pendidikan dasar mempunyai efek pertumbuhan yang terbesar dibandingkan dengan pendidikan menengah dan tinggi. Dampak dari pengembangan pendidikan dasar termasuk dampaknya pada distribusi pendapatan yang merata, kesejahteraan manusia, dan kebebasan. Pengembangan fasilitas kesehatan, pendidikan, jaring pangaman sosial dll., memiliki kontribusi langsung bagi pencapaian keberartian hidup dan kemakmuran, dan meskipun ini mungkin sulit untuk menetapkan nilai pastinya untuk pencapaian atau prestasi tersebut, tetapi tidak ada alasan apa saja untuk mengabaikan hal tersebut.

Pergeseran dari modal manusia menjadi pembanguna manusia dalam arti yang lebih luas meliputi benefit yang masuk dalam perhitungan dalam melihat peran pendidikan, fasilitas kesehatan, dan program sosial lainnya. Menurut Gertler, mesin pertumbuhan ekonomi mencakup tenaga kerja yang produktif dan keinginan individu untuk meningkatkan kualitas hidup (Konsen atau fokus pembangunan manusia). Mengabaikan manfaat dari kehidupan yang lebih baik dalam mengimbangi biaya dan manfaat dari pembangunan sumber daya manusia dalam perhitungan akan menjadi kesalahan yang fatal.

Konsen atau fokus utama dalam pembangunan manusia juga membuat pembangunan manusia penting untuk menuju pola distribusi penerimaan manfaat melalui pengembangan fasilitas kesehatan, pendidikan, dan program sosial lainnya.

Menurut Gertler, sumber mobilisasi motivasi untuk penumpang gelap merupakan pelajaran kunci dari fasilitas kesehatan umum tanpa memperhitungkan pendapatan. Inti yang menjadi penekanan disini ialah fokus pada keadilan dalam distribusi fasilitas kesehatan, akses atau kesempatan pendidikan,dll.. Hal ini membuktikan bahwa dengan tingkat pendapatan rendah, suatu populasi yang digaransi fasilitas kesehatan dan pendidikan, dapat sesungguhnya mencapai hasil yang baik dalam hal harapan dan kualitas hidup bagi seluruh populasi. Sebuah contoh di salah satu kota di India yaitu Kerala, dimana akses yang luas untuk memperoleh fasilitas kesehatan dan pendidikan dasar, mempunyai harapan hidup-untuk perempuan dan pria tidak jauh berbeda apakah kebanyakan berasal dari populasi korea yang lebih kaya.

Fokus dalam efektivitas pencapaian ini tidak hanya pada tingkat kematian tetapi juga pada tingkat kelahiran. Tingkat kelahiran yang tinggi terlihat merugikan bagi kualitas hidup. Efeknya lebih terasa bagi wanita muda, ketika melahirkan dan membesarkan anak akan sangat merugikan bagi kesejahteraan dan kebebasan seorang ibu muda. Sehingga efektivitas pendidikan dasar umum dan pendidikan bagi wanita dalam hal ini dalam rangka menurunkan tingkat kelahiran harus dimasukkan dalam perhitungan untuk mengukur manfaat dan biaya dari pengembangan pendidikan. (Lihat pada tingkat kelahiran di Korea yang rendah yang sama dengan di Kerala-India walaupun Korea lebih kaya 20 kali-GDP per kapitanya-dari India). Sehingga dengan nyata dapat membantu Kerala untuk mengejar kebijakan ekonomi dan sosial di India yang akan membuat pertumbuhan ekonomi dan sosial lebih cepat dan baik. Tetapi ini sungguh luar biasa bahwa pendidikan dan fasilitas kesehatan yang tersebar luas adalah sangat efektif dalam meningkatkan kualitas hidup meskipun ketika ekonomi terus memburuk.

Sekarang fokus pada sisi biaya, ini tidak bernilai apa-apa dalam konteks ini bahwa perekonomian yang lebih miskin tidak hanya memiliki uang yang terbatas atau sedikit digunakan untuk kesehatan dan pendidikan, tetapi juga sedikit uang untuk pengembangan fasilitas kesehatan dan pendidikan. Ekonomi yang lebih miskin keberpihakan pada isu kemiskinan lebih rendah dan kemudian disatu sisi pertimbangan kemelaratan dapat menjadi indikatornya.

SIMPULAN

Cara pandang dari pembangunan manusia sama baiknya dengan landasan utama financial conservatism memaksa kita untuk lebih praktis dan berorientasi pada hasil, dan mengantarkan kita pada konsekuensi yang relevan, baik itu langsung maupun tidak langsung (pada standar dan kualitas hidup, dan semua faktor yang mempengaruhi biaya dari pembangunan manusia).

Yang menjadi ancaman dari financial conservatism adalah penggunaan sumber daya publik untuk tujuan dimana manfaat sosial masih jauh dari ideal seperti pengeluaran yang besar pada bidang militer dinegara-negara miskin daripada pengeluaran untuk pendidikan dasar dan fasilitas kesehatan. Financial conservatism merupakan mimpi buruk dari kaum militer, namun tidak dari guru dan suster. Ini suatu indikasi bahwa guru atau suster merasa lebih terancam dengan financial conservatism dari model umum lainnya.

Sumber daya manusia merupakan salah satu pilar dalam proses pembangunan ekonomi dan Keberpihakan pada pengembangan sumber daya manusia merupakan satu cara yang harus ditempuh untuk mencapainya. Pengembangan sumber daya manusia bisa dilakukan dengan melaksanakan kebijakan sosial yang menyentuh seluruh lapisan masyarakat, seperti memperluas akses pendidikan dasar, akses fasilitas kesehatan, jaring pengaman sosial, dll., agar kemerataan pendapatan, kegiatan ekonomi dapat menyentuh masyarakat luas.

Sumber daya manusia yang berkualitas merupakan salah faktor yang sangat penting dalam mengakserelasi pembangunan ekonomi. Sehingga sangat diperlukan sekali keberpihakan dari pemerintah dalam mengembangkan sumber daya manusia untuk menjadi sumber daya modal. Pendidikan, kesehatan, keamanan, lapangan pekerjaan, lembaga penelitian dan tentunya lembaga keuangan yang mendukung penelitian itu berlangsung harus segera diwujudkan guna mencapai cita-cita sebagai negara yang sejahtera.

Namun pembangunan dan penyediaan sarana pendidikan, kesehatan, keamanan, lapangan pekerjaan bukan merupakan harga multak bagi terciptanya pembangunan tapi yang terpenting ialah meluasnya akses-akses tersebut dapat dirasakan oleh seluruh lapisan masyarakat tanpa melihat strata masyarakat yang ada, seperti di Karla India. Jika seluruh lapisan masyarakat sudah dapat merasakan akses terhadap pendidikan, kesehatan, jarring pengaman social dll., sehingga semakin berpendidikan dan sehat masyarakat maka semakin masyarakat ikut berpartisipasi dalam pembangunan ekonomi karena produktivitas, inovasi dapat terlaksana, tentunya distribusi pendapatan dan daya beli masyarakat semakin merata dan meningkat.

DAFTAR PUSTAKA

Suwarna, Budi. 12 November 2007. “Belajar dari Sistem Pendidikan Finlandia.” Kompas, Jakarta.

Sen, Amartya. 1998. Human Development and Financial Concervatism. World Development, Vol. 26, No. 4, pp. 733-742, Elsevier Science Ltd.

Yunus, M.. 2007. “Bank Orang Miskin.”

Stiglitz, E., Joseph. 2006. “Making Globalization Work: The Next Steps to Global Justice.” United State, W. W. Norton&Company 2006.

Lowenberg, A.D & Bent Yu. 1992. The Role of the Intellectual in Economic Development: A Constitutional Perspective, World Development, Vol. 20, No. 9, pp. 1261-1277.

Jones, Patricia. 2001. Are educated workers really more productive? Journal of Development Economics, Vol. 64, p. 57-79.

Arsyad, Lincolin. 2004. Ekonomi Pembangunan, Edisi ke-4, Cetakan ke-2. Penerbit Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi YKPN, Yogyakarta. 

Tidak ada komentar: